Terpuruknya Nasib Industri Pertanian Kentang Tanah Air

Pepatah “Sudah jatuh tertimpa tangga” mungkin paling pas menggambarkan nasib seorang pemula yang tak mau disebut namanya. Baru pertama kali bertani kentang sudah terlibas harga yang anjlok. Ketika Mitra Usaha Tani panen awal Maret, kentangnya hanya dihargai Rp2.000/kg. Alih-alih menunggu harga baik, kentang yang dibiarkan di lahan selama 2 bulan, malah menemui nasib sial. Sudah harga makin jatuh Rp1.500/kg, panen kentang pun menyusut tinggal 3 ton dalam 1 ha.

Berita duka memang sedang menyelimuti pasaran kentang. Hampir di seluruh sentra penanaman kentang, seperti Pangalengan, Dieng, Cipanas, dan Berastagi harga turun sampai titik terendah. Sekitar awal Maret 2000, harga kentang mutu AB di tingkat petani Cipanas masih Rp2.000/ kg. Kini, akhir Mei 2000 harga tak kunjung bergerak naik, bahkan makin terpuruk dengan Rpl.500/kg. di areal pertanian kentang di dieng kabupaten wonosobo banyak tanaman kentang yang mati akibat busuk


di areal pertanian kentang di dieng kabupaten wonosobo banyak tanaman kentang yang mati akibat busuk gambar kebun kentang kebun kentang kerinci proposal pertanian kentang kebun kentang dieng pertanian kentang dieng
di areal pertanian kentang di dieng kabupaten wonosobo

Menurut analisis Wildan Mustafa, manajer produksi Mitra Usaha Tani kondisi ini akan berlangsung lama. “Dua sampai tiga bulan mendatang harga kentang masih murah.

Banjir kentang

Kondisi saat ini bukan cerita baru. Produk pertanian yang diusahakan secara massal, berisiko tinggi terkena dampak fluktuasi harga. “Oversupply kentang sudah parah sekali,” kata Wildan menyebutkan alasannya. Hal senada juga diungkapkan oleh Siswo Husodo, staf usaha pengembangan Pasar Induk Kramatjati (PIKJ). “Kenaikan volume kentang yang masuk di PIKJ sampai 40% dari biasanya,” jelas Siswo. Indikasi meningkatnya jumlah kentang ini mulai terjadi sekitar awal Februari 2000.

di areal pertanian kentang di dieng kabupaten wonosobo banyak tanaman Garap pertanian kentang pertanian kentang di bandung di areal pertanian kentang perkebunan kentang di bandung alat pertanian kentang cara merawat kebun kentang

Pada minggu ke-2 Februari rata-rata kentang masuk ke PIKJ mencapai 581 ton. Harga rata-rata kentang ketika itu Rp 1.700 per kg. Peningkatan tajam terjadi pada minggu ke-4 Maret 2000, sekitar 754 ton. Harga pun langsung turun menjadi Rp 1.528 per kg. Kondisi seperti ini tak kunjung berubah, malah terus memburuk. Tercatat pada minggu ke-5 April—Mei 2000, harga kentang makin merosot jadi Rpl.328 dengan volume rata-rata 811 ton. “Keadaan seperti ini akan terus berlangsung 2—3 bulan mendatang,” tutur Siswo.

Banyak petani dadakan yang menggunakan lahan tidur sebagai tempat penanaman kentang baru. Akibatnya, “Produk melimpah dan harga pun jatuh,” ujar Siswo. Alasan serupa juga diungkapkan oleh Sambas, pengurus KUD Walatra, Pangalengan. Menurut petani kentang ini, salah satu penyebab banjir kentang adanya kucuran dana KUT. Akibatnya banyak pemain baru yang mengadu nasib.

cara merawat kebun kentang kebun kentang tosari kebun kentang kebun kentang pangalengan pertanian kentang

“Mereka membuka lahan baru di sekitar kawasan kehutanan di Pangalengan. Luasnya sekitar ribuan ha,” ujar Mitra Usaha Tani. Belum lagi pembukaan lahan baru di sentra kentang lainnya. Bisa ditebak, apa yang terjadi saat panen raya yang jatuh sekitar Januari Februari 2000. Harga pun terus merosot. “Akhir April lalu petani menjual dengan harga Rp900 per kg,” tambah Sambas.

Petani Rugi besar

Selain itu “Keadaan itu makin diperburuk dengan permintaan yang jauh menurun,” ujar Syarip Sormin. Permintaan tersebut tak dapat menyerap produksi yang membanjir. Tak heran bila petani merugi cukup besar tahun ini. Bayangkan saja, untuk mengerjakan lha lahan, petani di seputar Pangalengan harus mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp25-juta—Rp35-juta. Biaya itu terdiri dari komponen tenaga kerja, bibit, pupuk, dan yang tertinggi pestisida. “Biaya produksi tersebut sudah naik berkali lipat gara-gara krismon,” tutur Sambas

Dengan hasil rata-rata kentang granola sebanyak 12—20 ton per ha, titik impas penjualan kentang sekitar Rp2.000. Bisa diperkirakan berapa kerugian yang harus ditanggung petani dengan harga jual sekarang. Keadaan tersebut sudah dialami petani 2 kali musim tanam ini. Kentang yang dulu merupakan andalan dan menguntungkan, tak terbukti lagi.

Dahulu, jika petani rugi saat panen kentang segar, mereka masih berharap keuntungan dari penjualan bibit. Maklum harga bibit 4—5 kali lipat dari harga kentang segar. Kebiasaan petani umumnya memanen kentang besar dan menjual kentang kecil sebagai bibit. Namun, keuntungan tersebut tak bisa dikenyam lagi. Lantaran produk melimpah harga bibit lokal pun terseret jatuh. “Cuma dihargai Rp2.000—Rp3.000 per kg,” kata Sambas. Karenanya banyak petani memilih menggunakannya lagi sebagai bibit kentang sendiri ketimbang harus menjualnya.

foto kebun kentang kebun kentang di bandung obat pertanian kentang pertanian kentang modern pengembangan pertanian kentang

Tak hanya melulu pemain yang membludak, harga yang rendah ini juga dipicu dengan menurunnya kualitas. Musim hujan mengakibatkan rendahnya produk yang dihasilkan. Apalagi ada kecenderungan petani mengurangi dosis pupuk dan pestisida untuk menghemat biaya. Otomatis hasil yang diperoleh pun jauh dari rata-rata. Ukuran kentang menjadi lebih kecil. Dari Pangalengan, mutu ABC berisi 15—20 umbi setiap kg.

Kentang Berastagi murah

Rendahnya harga kentang juga terjadi di Berastagi, hanya Rpl.100 per-kg. Padahal kentang-kentang tersebut dari jenis granola dengan mutu terbaik yang mengisi pasar ekspor. Setiap kg, untuk kelas A berisi 4 umbi, B : 8 umbi, dan C : 12—15 umbi.

Harga rendah tersebut diakui oleh Mitra Usaha Tani, pemasok asal Beratagi. “Harga saat ini memang sangat jauh menurun,” ungkap pedagang yang sering mengirim kentang ke Singapura dan Malaysia.

Melihat kecenderungan tersebut, Ramli Tarigan dari Mitra Usaha Tani mengkhawatirkan kondisi petani yang makin enggan menanam kentang. “Petani amat mengeluh dengan harga jual yang sangat rendah,” jelas Ramli yang bertugas sebagai pengawas lapangan.

Karenanya, petani-petani kentang asal daerah subur di Kabupaten Karo itu memohon kepada pemerintah untuk mencermati harga. “Mereka juga minta agar harga pupuk dan obat-obatan distabilkan pada tingkat yang lebih murah, sehingga bisa terbeli petani,” tambah Ramli.